Bab 5.Roman Satria-Tiara

angel222
Persahabatan adalah harta yang ternilai , pada saat tubuh terhempas badai, saat hidup dan mati menjadi lembaran-lembaran kehidupan yang abadi, mata setajam elangpun dapat saja menjadi kabur- lengan yang kokoh mendadak menjadi tak lemah berdaya dalam situasi seperti ini , seseorang akan merindukan hadirnya sahabat yang dapat menjinakkan ketersendirian, menghilangkan ketakutan dan kesedihan yang melanda hati.

Karena rindu yang tak tertahan , tubuh Satria menjadi tangkai yang mngering dan ia mulai mengembara menjelajahi bebukitan dengan berjalan kaki, menangis dalam debu, tertawa dan berbicara disetiap sudut jalan memanggil-manggil nama sang terkasih. Bagaikan sebuah dedaunan yang terlepas dari tangkainya, dirinya kini terombang-ambingkan oleh pikiran dan perasaannya yang kacau, tiada waktu bergulir serta angan yang terlintas dalam benaknya, selain bersyair menyebut-nyebut nama sang terkasih.
Duhai Tiara…
Engkau adalah keharuman nafas surgawi , yang membuatku tak lagi mampu untuk memejamkan mata…
Sihirmu begitu mempesona , membuat hati yang gersang ini menciptakan kedalaman samudera yang nyaris sama dengan kedalaman jiwa…
Hanya untukmu seorang , seluruh kerinduanku , impianku , angan dan harapanku berlabuh , karena hanya engkaulah segala keinginan bermuara…
“ Wahai Tiara, ditepian air berkilau cahya purnama ini …masihkah kau teringat akan diriku?!”…
“Ketika kau melemparkan sebuah batu ketengah-tengah sana, lemparan ku berjarak empat tombak – lebih jauh dari lemparanmu!”…
“Dimalam ini aku kesepian Tiara”…”Ketahuilah bahwasanya bayang indahmu tak sedikitpun luput dari pikiranku, selamanya ia bersemayam abadi dikedalaman jiwa!”
“Engkau laksana cahaya bintang yang melintasi malam sepiku, dan parasmu bagaikan setangkai mawar yang menyambut dan menyejukkan kesegaran pagi,”
“Tanpa kehadiranmu mungkin saja kelopak bunga enggan merekah, mentari enggan bersinar – begitu juga kupu enggan tersenyum ; karena engkaulah nafas keharuman ; mata air kehidupan…..
“Saat dirimu hadir dikedalaman sanubari….aku tak tahu , kenapa diriku tak dapat melepaskan bayangmu dari jiwaku”….
“Engkaulah satu-satunya bayangan semu juga nyata yang bersemayam dijiwaku dengan segala keajaibannya…Engkaulah keindahan yang membuatku -tak lagi mampu memejamkan mata” ….
“Disaat kuteriakkan namamu dari balik bebukitan, apalah daya hanyalah gema yang kembali”,…
“ Duhai Tiara, Takkala kutatap kedua matamu, seakan ia hendak berbicara….Kesedihan tak dapat kau sembunyikan , sekalipun engkau tersenyum,……..
“Dan aku memahaminya…..Mengapa harus meredup kasihku ?!”….
‘Kembalilah bercahaya…..bila cinta ini yang akan menyembuhkanmu…aku akan membawanya kembali”.
“Ketahuilah, aku membawa cinta ini pergi untuk kukembalikan lagi padamu, jika engkau siap menerimanya kembali”.
“Percayalah bahwasanya kepergianku adalah sebuah pengembaraan didalam hatimu, sebuah pengembaraan dalam pengabdian cinta,”…
“Duhai Tiara diatas prasasti ini, dahulu kita pernah duduk bersama, memandang kerlip ribuan bintang… Masihkah kau ingat Tiara..tepat diatas sana !, sebuah tepian sudut langit berwarna keemasan yang pernah kau tunjukkan padaku,….. atau takkala kau sadarkan diriku tentang merdunya suara burung sebelum mereka beranjak dari sarangnya?!”
“Dari semua kenangan yang tercipta itu, dengannya aku berjanji takkan pernah lelah menyayangimu, walau cinta ini tak pernah teraih, namun tak apalah asal engkau tetap singgah dan tersenyum dalam hatiku!”
“Karena, engkaulah Dewi yang membawa hari-hariku menjadi indah dan penuh warna.
Engkau dan hanya engkaulah yang mengisi kesunyian malamku dengan dendang bintang dan bulan, Engkau jualah si pembawa kunci, bagi pintu kebahagiaan jiwaku, Dan Engkau jua-lah mata air kehidupan bagi dahaga jiwa”.
“Dalam ketulusan hati , jiwa ini tunduk pada kepasrahan hatimu, meski mereka berkata , suatu saat cinta ini akan meluruh dan sirna, namun engkau tetap abadi selamanya dihatiku !”
Dia , sipujangga cinta terus menyebut nama “Tiara” yang telah mengunci mata hatinya namun jeritannya hanya bergema dan memantul ditiap bukit-bukit kesedihan. Bulir-bulir airmatanya yang menetes dari pipinya mengering begitu saja bagaikan setitik embun yang menguap oleh pancaran terik keperihan hati.
Dalam lautan gema seperti itu tak seorangpun memahami dan mendengar rintih hatinya, begitu juga dengan Tiara tebalnya dinding istana beserta barisan tentara yang menjaganya membuat dirinya lengah, dan tak begitu memperhatikan kehidupan Satria yang begitu nelangsa, baik karena cintanya yang terbelenggu; juga terhadap ketersendiriannya yang mencekam.
Dalam kondisi yang memprihatinkan seperti itu, beberapa teman Satria telah beberapa kali berupaya untuk membujuk dan mengingatkan Satria, agar dirinya jangan sampai membelenggu kehidupannya yang bebas, dengan memenuhi isi otak dengan perangkap-perangkap cinta yang melenakan serta manyadarkan diri satria yang sedang dimabuk cinta, agar menghidupi ketersendiriannya dengan keriaan pesta-pesta.

Mereka berpesan kepadanya, “Wahai sahabat, lupakanlah segala khayal gilamu, Tiara merupakan seorang putri raja -seorang pewaris tahta kerajaan, tidaklah mungkin punguk merindukan bulan, mustahil bagi tangan menyentuh langit !…untuk apa engkau mencintai setangkai mawar, sedang engkau tidak memiliki harapan untuk bersanding dengannya ?!” …“Untuk apa engkau lari dari kenyataan hidup lalu memperbudak dirimu dalam ikatan cinta yang semu serta mengaburkan matamu dari sesuatu yang nyata ?”….

“Adalah sebuah ungkapan yang menyesatkan, bila ada yang mengatakan cinta sejati itu ada, dan hujaman panah cinta keabadian hadir dari pandangan pertama !… Kami rasa dirimu sedang mengalami keletihan, maka dari itu bertindak segila ini !”…”Wahai Satria, Peri cinta dari dunia manakah yang akan mengubah seekor katak menjadi seorang pangeran?!”…..”Dapatkah sang katak terbang melompati keangkuhan tinggi jendela istana?!….aku rasa sebelum katak itu melompat, mendekatinyapun ia akan segera mati oleh ketajaman pedang dan anak panah yang berjaga disekelilingnya!”

”Segeralah kembali kedunia asalmu, sebuah tempat dimana Tuhan telah menganugerahkan segala kebaikan bagi segala ciptaan-Nya, biarkanlah kehendak Tuhan berlaku untukmu dan janganlah engkau permainkan segala hasrat dan harapan indahmu dengan berbagai pandangan-pandangan kosong yang menipu kehendak hati.”

“Marilah kita bersama merentangkan sayap-sayap masa muda, tuk terbang menyusuri taman-taman hati guna memetik sekuntum bunga yang mudah dijangkau oleh tangan-tangan kecil kita, dan janganlah engkau mengunci dirimu dalam ruang yang sempit, serta menengelamkan dirimu dalam syair-syair kerinduan, tanpa seseorangpun yang menjawab segala kerinduanmu dan juga obat penawar bagi penyakit cintamu!.”

“Mengapa kau bertutur seperti itu wahai sahabat ?” tutur Satria, …”Tidakkah kau ketahui bila Cinta itu sesuatu yang universal, bahwasanya keagungan Cinta tidak mengenal batas ruang dan waktu?…Cinta bukan hanya untuk sepasang kekasih, Cinta itu begitu banyak penjabarannya, dan apabila aku belum memiliki kekasih dalam artian wujud, bukan berarti aku berlidung dan membohongi diri dalam kesejatian cinta , ketahuilah itu wahai sahabat!”
“ Saat kegelapan tiba , melalui lentera kemurahan-Nya,
aku membaca catatan hidupku yang penuh dengan duka dan cita,
Didalam gelap hati , dengannya aku bisa melihat sudut tepian yang senantiasa tersembunyi atau bahkan sengaja disembunyikan-Nya.
Disaat cahaya ini meredup, ataupun lenyap untuk selamanya,
Maka Jiwaku tak ikut mati bersamanya,

Dan atas nama keagungan cinta,
Allah menciptakan Hawa bagi Adam untuk menenteramkan gundah hatinya.
Kalau saja Allah berkehendak untuk meniadakan cinta ,
pastilah Dia akan menciptakan satu jenis makhluk,
Dalam keagungan Cinta Allah memelihara ciptaannya,
dan dengan cinta pulalah,
manusia mengagumi dan mengenal Penciptanya !”

Mendengar syair-syair tersebut si-sahabat menjadi malu, ia menarik kembali semua ucapannya, tidaklah mereka ingin menambah kepahitan sebuah buluh, yang telah terkerat melodi kepedihan hati. Dan tentulah si sahabatnya tak bermaksud menyindir ataupun menyakiti hati sang pemuda ,maka dari itu -si pemuda segera merangkul dan memaafkan kesalahan sahabatnya itu

Walau duri nan tajam pernah menusuk kelembutan daging, namun apalah luka yang tergores pun kelak akan kering dengan sendirinya, tak mengapa ada sedikit kepedihan, toh sang sahabat hanya sekedar mengingatkan. Sejak peristiwa itu persahabatan mereka menjadi kuat, dan mereka telah berjanji untuk saling menjaga layaknya saudara yang memiliki pertalian darah.

Adakalanya persahabatan menjadi sebuah permusuhan, Suatu saat cakar-cakar yang tajam, lebih dibutuhkan untuk menggali bebatuan- daripada kuku-kuku yang tumpul lagi halus, maka dari itu janganlah menghindari musuh-musuhmu perihal kejeliannya akan kelemahanmu; melainkan belajarlah kelemahanmu yang terpatri pada mata dan benak mereka.

***
Kerinduan pada sang terkasih telah menginspirasi Satria untuk bersyair, kelabilan emosi telah membuat kreatifitasnya meningkat. Seolah tidak menghiraukan berbagai cemoohan yang terlontar padanya, ia tetap saja bersenandung menyebut-nyebut nama sang terkasih.
Dimana saja Satria berada, maka yang selalu menjadi topik pembicaraan adalah Tiara dan Tiara, anak dari Baginda Raja.
Duhai Tiara ,
Memikirkan dirimu membuatku selalu terjaga dari tidur,
Aku berteman sepi , jiwaku mengembara susuri bukit dan belantara kesunyian,
Merindumu membuat jiwaku terbakar,
Laksana sebatang lilin, meleleh pula segala harapanku,
oleh api keterpisahan.

Tahukah kau Tiara,
Orang-orang mencelaku karena menganggap cinta ini sebuah hasrat nafsu,
Keluarga dan kerabat menasehatiku untuk meninggalkan dirimu,
Mereka tak tahu bahwa beban derita yang kutanggung adalah atas kehendak dari-Nya,
Duhai Tiara !,
Dalam genangan airmata , ku selami palung jiwamu
Dalam balut keputusasaan , aku memasrahkan diri,
Dalam himpitan derita, ku tersenyum padamu,
Dalam cercaan dan hinaan mereka, aku menahan diri.

****

Pikiran yang kalut terkadang membuat sipenderita menjadi mudah tersinggung, dalam kelabilan seperti ini terkadang peran orangtua serta keberadaannya, sangatlah dibutuhkan bagi si anak. Namun terkadang orangtua terlalu menganggap sepele permasalahan anak muda, mereka mengabaikan permasalahan anaknya seolah kegilaanya akan berakhir seirng dengan perjalanan waktu

Tidak saja dialami oleh Satria dan kelabilan emosi ini terjadi juga pada Tiara, tak seperti biasa wajah yang biasanya cerah -belakangan hari menjadi muram laksana langit yang tertutup awan kelabu. Kelakuan ganjil tersebut membuat bingung dan gundah sanak keluarga Tiara.
.
Begitulah, tak seorangpun tabib penyembuh didunia yang mampu mengobati penyakit yang ditimbulkan akibat cinta, selain kehadiran sipemberi penyakit.
Saat malam menjelang ketika banyak jiwa tertidur dalam peraduan maka keindahan jemari impian yang berapi selalu membuat jiwa sang Putri terjaga; dari balik kilau bintang-gemintang; ia selalu merindu pantulan cinta kasih dari mata sang tercinta .

“Duhai, penyakit apa kini yang telah dideritanya!” ; “ berbagai ramuan telah diminumnya, berbagai tabib ahli telah diundang untuk mengobati penyakitnya tapi penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh malah semakin menjadi !”….begitu tutur bibi Amelia, pengasuh Tiara sejak dirinya dilahirkan

Dalam kebingungan seperti itu; bibi Amelia, Sang pengasuh membujuk Tiara untuk dapat berbagi penderitaan sebagaimana ia telah berbagi kesenangan padanya.
Disebuah ruangan megah, disuatu tempat pembaringan berhiaskan warna-warni bunga, tampak seorang dara duduk terpekur disudut ruang kebisuan, matanya menerawang jauh…terlihat tetes demi tetes bulir airmata jatuh membasahi pipinya yang halus. Tak terdengar sepatah katapun terucap dari lidahnya , hanya desis kesedihan serta keputus-asaan sajalah yang bergema dari bibir kesunyian itu. Dari belakang punggung sigadis seuntai tangan halus menyapa pundaknya, dalam kegundahan hati kemudian ia berkata…
” Duhai anakku tercinta….duri apakah gerangan yang membuat permata hatiku yang selalu bersinar penuh ceria, selintas berubah laksana awan mendung -yang menutupi indahnya mentari ?!’…’Katakanlah wahai putri jiwaku, siapakah wujud yang tega membuat belahan hatiku ini, berderaikan rintik airmata kesedihan ?!”…..
“Apabila ada sebuah duri yang menancap dikulitmu, maka dengan kebijaksanaanku, aku akan menariknya keluar “. “Apabila ada sebuah taman jiwa dan setangkai bunga yang memikat hatimu, kuingin engkau menjadi pemelihara dan pemilik darinya, bukan sebagai budaknya!”
“Duhai bibi…aku tak tahu apa yang kini kurasakan….aku telah jatuh hati , namun ku tak berdaya karena yang aku kasihi hanyalah sebuah bayangan, sebuah bayangan yang semu namun nyata adanya, Dia-lah bayangan yang telah membuat sinar mataku kembali memancarkan sinar harapan yang sekian lama telah meredup,”
” Sebuah bayangan yang jauh dari pandangan mata namun dekat dihatiku…..aku sendiri masih bingung didalam memaknai semua ini , seandainya saja aku ceritakan semuanya padamu, mungkin engkau akan mentertawakan dan menganggap diriku berprilaku ganjil, karena kesemuanya ini berangkat dan berawal -dari ketulusan yang gila dan kegilaan yang tulus!!”….
Sambil tersenyum dan membelai rambutnya dengan jari-jari kebijaksanaan , wanita tua itu berkata dengan lembutnya, “Ceritakanlah buah hatiku, aku akan mendengarnya sekalipun itu cerita paling aneh dan paling ganjil sekalipun!”
“Pada suatu redup senja, jiwaku bertemu dengannya disuatu persimpangan jalan yang aneh, sebuah jalan ghaib yang tak sengaja menuntun dan mempertemukan langkah kami……jiwaku dan jiwanya saling berbagi cerita dan bertegur sapa, entahlah bibi, saat itu aku merasa ia adalah teman langitku, aku merasakan seolah-olah sisi ruang dari diriku ada didirinya!”….
“Namun entahlah …dari suatu lamunan ke lamunan lainya , jiwaku seakan menerawang jauh, dan dari lamunan itu sesekali waktu -dengan tiba-tiba saja aku mengharap , suatu saat bayangan itu memang ada wujudnya, dan memang nyata adanya….tetapi kemana aku dan dia, bisa mencari wujud dari masing-masing diri ?!…”sedang hasrat jiwa hanya bisa mengharap pasrah, kepada keajaiban – keajaiban yang membawa kami dalam suatu pertemuan yang nyata !” …..
‘Mungkin saat itu aku tak pernah menganggapnya dirinya ada , karena hal ini memang berangkat dari sebuah jalinan semu, ia tetaplah bagaikan sebuah bayangan, sisi lain dari jiwaku berkata : “aku harus menggunakan akal sehatku, aku tak boleh terbuai, ya…tak boleh! “…. sesaat ia menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan ceritanya kembali….
“Waktu telah lama berlalu , kucoba melupakan dan mengakhiri kisah-kisah semu itu, lalu mencoba merajut kehidupan yang lebih nyata….dan ternyata sang nasib berkendak lain , serasa tak ingin mengakhiri segala kisah yang ada, takdir mempertemukan kami…ajaib memang !….Alam seakan-akan memiliki ceritanya sendiri !…seandainya aku mengetahui keberadaannya disana !….mungkin saat itu aku akan tersenyum padanya, kan kuberikan padanya seutas senyum- yang takkan pernah bisa terlupakan sepanjang hidupnya!”…”Yah, seandainya saja….dan seandainya saja aku bisa membalikkan waktu !”
“Duhai bibiku tercinta, di saat hari-hari dan musim berhiaskan langit kesedihan serta merintikan hujan airmata duka, ……..”
“Entah bagaimana, Tiba-tiba saja jiwaku menangis untuknya,….dipersimpangan jalan itu aku kembali teringat padanya, -aku telah meninggalkannya seorang diri !”…
“Disaat hewan-hewan kembali kesarang disaat badai melanda , aku meninggalkannya seorang diri dipadang kesedihan itu….Oh, Sang Pemurah dan Pengasih-betapa kejamnya aku !….”Dalam keremangan malam yang dingin ini, apakah ia masih bernyawa?….dikeramahan- sudut tepian langit manakah ia berteduh?….dimangkuk ajaib manakah ia mengenyangkan kesedihannya ?!”.
Dengan jemari lentiknya sang dara menyapu bulir-bulir airmata kesedihan ,sambil menahan isak tangis yang dalam ,ia berhenti sejenak .Tampak dua mata indahnya berkaca-kaca seakan menembus batas dinding-dinding kerinduan…..sesekali ia menutup wajah cantiknya, kemudian dengan terbata-bata dan dengan sisa-sisa kelembutan hatinya – ia mecurahkan perasaannya kembali …..
” Duhai keego-an diri, apakah ia masih memikirkan diriku ?…apakah ia masih mengharapkanku , apakah ia masih menungguku dipersimpangan jalan itu, tahukah ia bahwa aku tak pernah berniat meninggalkannya ?…apakah ia sudi menerimaku kembali sebagai sahabat bagi jiwanya?!”…”Kenapa aku seakan diam saja wahai kesunyian malam , kenapa jiwa ini seolah-olah tidak memperdulikan keberadaannya, walau sebenarnya aku peduli?!”….”Apakah sang sahabat mengetahui ketulusan hatiku ini ?…Masihkah ada rasa sayang itu ataukah kebencian yang ada dibenaknya kini ?!…….”Duhai badai jiwa yang kini berkecamuk….aku tak berani membayangkannya !”….
Dalam kegundahan jiwa, sang dara memeluk bahu bibi tercinta -lalu menangis sejadinya,……. laksana anak sungai yang mengalirkan air kehidupan, tampak tetesan bulir airmata kasih -mengalir deras dari kelopak-kelopak jiwanya.
Sambil membelai rambut indahnya bak mayang terurai., sang bibi membisikkan kata-kata lembut untuk menguatkan bathinnya , laksana ibunda bumi yang sedang mendongengkan kebijaksanaan kepada bunga dan rerumputan, ia berkata :
“Duhai permata hatiku !…lihatlah koin emas ini, walau ia merupakan satu kesatuan- ia tetaplah dua sisi yang berbeda !”
“Begitulah jalan hidup , tak ada yang sama….takdir memang mengharuskan kita memainkan peranan yang kita harus mainkan…dan begitulah memang jalan hidup yang meski dijalaninya !”
“Janganlah bersedih untuknya, tersenyumlah !…bukankah kebahagianmu , kebahagiannnya juga ?!”…”Berdoalah untuknya, sebagaimana ia mendoakan kebaikan padamu !”…
“Berilah doa- doa yang akan menguatkan keteguhan hatinya!”…”Itu lebih baik daripada engkau bermuram durja !”…”Janganlah menambah kesedihan untuknya !”…
“Bila kau rindu padanya serukanlah kerinduanmu kepada burung-burung yang melintas diangkasa, dan apabila ia mendengarnya, maka ia akan rentangkan sayapnya lalu menjemput jiwamu yang bersedih diruang kehampaanmu ini, bukankah ia pernah berkata seperti itu padamu ?!”
“Duhai buah hatiku, Yakinlah bahwa kekasih sejati adalah ketika kamu menitikkan air mata, maka dengan kebesaran cintanya ia tetap peduli terhadapmu.Sebuah kekuatan abadi yang ketika kamu tidak mempedulikannya dan dia masih menunggumu dengan setia.. Ketulusan sejati adalah Saat Sang kekasih mulai mencintai orang lain dan dia masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku turut berbahagia untukmu‘…
”Duhai mawar asuhanku tercinta, Mulai detik ini, luruhkanlah segala kedukaan yang merisaukanmu……tepiskanlah segala gundah. Bernyanyilah untuknya agar ia tabah dan kuat menapak dijalannya!”…”Tulislah dan tuangkanlah segala rasa hatimu, walau ia tak pernah sekalipun membaca senandung jiwa ini, kuyakin mata hatinya dapat memahaminya!” . Sang dara tampak tersenyum lega…ia mengecup pipi lalu memeluk bahu sang bibi dengan sejuta rasa kasih, seandainya bulan dan bintang melihat ketulusan itu , pastilah mereka akan dibuat iri olehnya, iri atas ketulusan cinta kasihnya !
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Ketatnya pengawalan istana membuat kedua pecinta tak dapat lagi bertemu, walaupun hal itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hal demikian membuat jiwa Satria sedemikian putus asa. Karena tertekan dalam keputus asanya ia memberanikan diri untuk berkeluh kesah terhadap sahabatnya !

“Duhai sahabat , ternyata ada benarnya perkataan yang kau ucapkan dulu !….Kini Tiara tak dapat lagi kutemui, Sang Raja mengancamku untuk tidak menemui anaknya, Tiara telah terkurung rapat dalam sangkar emasnya.” “Kini tidaklah mungkin tanganku yang kecil ini menjangkau langit , menjangkau dirinya yang dengan sebuah ketulusan hati yang dengannya aku mencinta! ….dalam ketidak-berdayaanku ini, aku bersumpah dalam selubung kehormatanku untuk tidak menyerah didalam meraih cintanya !”

Malang benar nasib Satria, ia memahami dirinya sebagai anak yatim tak mungkin pantas bersanding dengan Putri Raja, maka dari itu ia berpamitan kepada sahabat-sahabatnya untuk pergi meninggalkan tanah kelahirannya untuk berniaga kenegeri seberang. Cita-citanya hanya satu : mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya yang kelak digunakan untuk melamar Tiara, sekaligus mencari keberadaan Ayahandanya yang telah bertahun-tahun tidak ada khabar beritanya.

Dan ia melihat disana; tiada lagi yang dapat diharapkan dari lingkungan dan kerabatnya, harapannya pelahan telah kandas. Ia menjadi orang asing ditengah-tengah komunitas manapun.

Pikirannya menjadi kalut , kini ia merasa negeri kelahirannya yang penuh keramahan telah menjadi negeri yang bengis , kasar dan penuh kecurigaan, dimana ia tak tahan lagi berlama-lama untuk tinggal dan bertahan didalam naungan langit nan hitam tersebut. Maka dengan perasaan berat ia meneguhkan hati untuk meninggalkan Kerajaan Ansaria.

****

Pada suatu kesempatan , Satria mengutarakan niatnya untuk hijrah kepada tetua suku, setelah mendapat ijin tersebut ia mengemasi barang-barang dan menyiapkan kudanya. Setelah berkemas-kemas Satria menyalami para handai taulan dan sahabat, salah satu sahabatnya yang bernama Saladin tiba-tiba muncul dihadapannya.
Satria berpesan padanya untuk mengabari kepergian dirinya pada Sang Putri. apabila suatu saat nanti, ada suatu kesempatan untuk berjumpa Sang Putri diseputar alun-alun Istana.

“Satria aku ingin mengucapkan suatu rahasia untukmu!”, bisik Saladin. Almarhumah ibuku berpesan padaku, apabila tiba masanya, aku harus menyampaikan sebuah rahasia padamu. “Apa rahasia itu Saladin?!”,tutur Satria berharap-harap cemas.
“Ayahmu bukan menghilang, namun sejak kepergian ibundamu, ia tak mengakui dirimu sebagai anaknya!”.

Betapa hancur hati Satria mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Saladin, namun ia berusaha tegar menghadapi itu semua. Kekecewaan tampak jelas tergambar diwajahnya yang selalu tergores oleh kepedihan. Dari mimik wajahnya tergambar jelas kedukaan yang dalam, menandakan kemarahannya yang hebat, lebih hebat dari amukan topan ataupun letusan gunung berapi. Namun dihadapan suku besarnya, Satria berusaha meredam semua badai yang bergolak didalam hati. Sambil membungkukkan badan, ia naik keatas kuda dan melambaikan tangan perpisahan kepada handai taulan.

Satria menarik tali kekang kudanya, ringkikan getir nafas sang penunggang menyatu dengan tunggangannya. Perlahan kaki kudanya melangkah menjauh meninggalkan tanah kelahiran yang amat dicintainya, perlahan-lahan kuda yang ditungganginya menghilang meninggalkan debu dan jejak persahabatan yang selamanya terpatri didalam kalbu masyarakat suku besarnya.
Kepergian Satria membuat sebagian kelompok masyarakat menjadi sedih karena telah kehilangan sosok penyair yang mereka idolakan, sebagian lagi menyambut dengan lega akan kepergiannya , karena bisa terhindar dari kemungkinan murka sang Raja akibat ulah gilanya terhadap Tiara.
Kini keterpisahan telah mendera kedua pecinta , perasaan keduanya menjadi hampa sejak sang terkasih tak tinggal lagi disisi, derai bulir-bulir airmata kesedihan menyelimuti hari-hari mereka laksana sebuah bahtera yang tengah berlayar, serta terombang-ambing ombak pada lautan lepas, dan si nahkoda telah hilang entah kemana.
Duhai Tiara setiap saat slalu kulantunkan syair kerinduanku untukmu , Kususuri jalan berduri ini sambil menapak-tilas jejak langkahmu,
Tanpa lelah kuberjuang tuk berjumpa denganmu, merambah badai dan petaka, menyambung malam dengan siang tanpa teduh menaungiku
Duhai Tiara Saat kukenang dirimu , jiwaku terguncang, anganku melayang, akal sehatku hilang.
Dihari ini disaat kutatap wajahmu dibalik remang cahaya purnama, jiwaku bernyanyi, hatiku menjadi teduh , kedukaanku mendadak lenyap, meski tak tahu apa yang kan terjadi setelah ini.
Duhai cinta , seandainya saja aku mempunyai dua hati satu kan kuberikan tuk hidupku, satunya kan kubiar tersiksa dalam cintamu.
Duhai keindahan yang menawan hati, kembalikanlah cinta yang ada padamu kepadaku, jika tidak tinggalkanlah aku !
Jangan biarkan tubuhku menjadi sasaran anak panah mereka-mereka yang menghinaku.
Jika saja kata-kata dapat melukai tubuh, tentu tubuhku telah penuh luka karena ucapan mereka.
Duhai bumi tempat keindahan sejati menghampar, Disaat ku berjalan dalam genggaman tangannya,Kurasakan jiwaku dan jiwanya tertawan dan tergadai dalam genggaman kuku-kuku hitam.
Seakan dunia menjadi tempat asing- dimanapun kami berpijak , dimanapun kami tinggal. Hanya dikeabadian tempat kami bertemu “.
Satria terus memacu kudanya, sesampainya dialun-alun istana, ia menghentikan dan merapatkan kudanya disebuah taman. Dengan penuh kehati-hatian ia memasuki taman istana tersebut , sebuah tempat dimana ia dulu sering berpadu janji dengan Tiara, tampaknya Satria meletakkan sepucuk surat, disebuah pot bunga kesayangan dari Sang Putri. “Semoga suatu saat ia membaca pesan ini !” ujar Satria dalam hati.

Setelah meletakkan sepucuk surat, secara pelahan ia kembali menjalankan kudanya. Sambil matanya memandang jauh menuju jendela istana, kembali ia bersyair :
Duhai kekasih hati,
Kenyataan hidup mengharuskanku untuk pergi, membawa beban dunia ketika letih memanggil- aku bisa menyandar,
membawa sebuah beban bathin, ketika letih memanggil- kemana aku mesti menyadar?
Duhai kekasih,
Janganlah pernah risau akan kepergianku, karena kepergianku adalah sebuah pengembaraan didalam hatimu,…
Sebuah pengembaraan dalam pengabdian cinta
Tidak bisa dipungkiri bila ku jatuh hati padamu, namun ketahuilah, ketakutan-ketakutanku itu tidak seluruhnya hilang,
Lebih baik aku memendam derita kasih ini dan menelannya dalam bahagia , Daripada mengungkapkannya dalam ketidakberdayaan jiwa,
Aku menyadari aku bukanlah yang terbaik, namun ku akan mencoba memberikan yang terbaik…dengan berat hati, aku telah jujur pada diri , untuk berani jatuh cinta,
Namun sadarilah duhai Tiara, aku ini bukanlah siapa-siapa, bila kau percaya akan cinta dan hidupku, percaya juga tentang kisah si lumut, maka datanglah padaku
Bagaimana engkau akan memasuki sebuah bahtera , bila tidak mengenal seutuhnya dari sang nahkoda ?!….
Namun bila kau telah mendapatkan yang terbaik dan kau bahagia, maka bahagiamu juga bahagiaku….
Percayalah dan aku berjanji tak ada lagi airmata, tak ada lagi penantian…..
Karena sang bahtera telah memahami bahwa jiwa itu , bukanlah tempatnya untuk berlabuh….
Dan bagimu Satria,
Berhentilah tertawa dalam airmatamu !, Masih banyak hal lain yang meski diperbaiki,
Memilikinya bagaikan mimpi disiang hari, bagaikan tangan ingin menjangkau langit !
Oh, betapa mabuknya sipemuda ini !…Sudah berapa gelas anggur cinta yang tlah direguknya?!.
Dalam kehidupan ini,Tak ada yang bisa menduga arahnya cinta, dan bagimu Tiara, bila tiba saatnya nanti, …
Kita telah berusaha mencari takdir kita masing-masing, tuk memberikan yang terbaik bagi diri,
Aku ingin engkau menungguku disana, menungguku hingga batas waktu !
Jangan pernah sekalipun risaukan diriku….ketersendirian bukanlah hal asing bagiku!,
Disaat waktu mengaharuskanku untuk pergi, maka aku akan pergi,
Disaat aku akan kembali, maka aku kan kembali !
Namun simpanlah kisah ini,
Karena dengannya aku ada,
Dengannya aku memiliki nisan.
****
www.duniasastra.com
Roman Satria Tiara
Karya : Hartono Beny Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

error: Content is protected !!