Puisi 1.
————————
Kegilaan Cinta
Duhai kekasih,
Disaat seorang pemuda dilanda cinta, Hal gila apapun pasti dilakukannya demi Sang tercinta,
Tembok yang tinggi sekalipun kan dipanjatnya, laut nan luaspun kan diarunginya,
Onak-duri itu dapat dengan mudah diatasinya, lain halnya bila bunga yang ia cintai dipagari – dinding-dinding kemuliaan dan kehormatan,
Ia akan mati dibalik tembok itu dengan menggenggam sebuah keyakinan kuat dalam hatinya,
Dalam kematiannya- ia menyakini bahwa; kelopak bunga yang ia lempar dari balik tembok itu,
sekalipun bunga-bunga itu tak ada yang memungutnya ,
suatu saat layunya akan menjadi benih harapan, serta obat kerinduan bagi sang terkasih,
Bunga-bunga harapan yang kelak menjadi pelipurnya dikala sedih,
menjadi teman sejatinya dikala hampa.
————————————————————————————————

Puisi 2
———————————
Cinta Ilahi bagaikan buah karunia, yang bermaniskan rahmat dari surga dan menjadi sebuah air keberkahan bagi jiwa.
Ketika langit menunjuk denyut nadi, mentakdirkan dan menuntunkan jejak langkahnya pada Cinta,
maka lembaran Cinta yang terlahir dan tergerai darinya akan tulus dan suci ; bagai kain putih tak ternoda.
Lembaran itu akan membalut luka hati hingga membawa duka pada kebahagiaan.
Kain Cinta yang berhiaskan corak angan dan nafsu; adalah kain cinta yang bersumber dari bumi.
Serat kain seperti itu akan mudah lusuh dan memudar warnanya, apabila keindahan kain yang dibayangkan tidak sesuai dengan harap dan kenyataan.
Cahaya Cintaku yang menerangi dirinya, tidak bersumber dari sumbu bumi; bukan pula dari matahari.
Ia bersinar dengan kilau kebenaran surga, wujudnya kan menghias abadi dikedalaman jiwa.
Surgalah yang meraih dan menuntun tanganku untuk terbang bersama sayap-sayap cinta.
Biarpun panah cinta melesat kencang melukai sayapku. Ia pulalah yang nanti membalut lukaku.
Bagaimana mungkin aku akan melepaskan diri dari balutan kasihnya ,
sedang Cinta telah menunjuk dan mengilhamkan cahaya kasihnya untukku
———————————————————————————————————————————-
Puisi 3
————————–
Lumut dan batu

Lihatlah batu ini dan lumut yang menutupinya,
Lebih baik bagimu menjadi lumut yang tak memiliki langit tuk berteduh ,
daripada menjadi batu permata yang sejak dari kelahirannya didekap keperkasaan gunung-gunung .
Apalah arti keindahan wujud baginya ?,
Dan apalah arti kemilau cantik bagi dirinya- bila ia sendiri tak pernah merasakan sentuhan sinar kasih
ataupun belaian lembut angin kehidupan .
Duhai kekasih hati,
Jangan pernah takut melangkah, buangalah keraguan diri ;
-karena dalam wujud cinta, segala macam bentuk keraguan adalah dosa kasihku.
Lihatlah lumut ini dan belajarlah darinya,
Tidakkah kau lihat bahwa batu dan lumut itu beda, tapi lihatlah ia dengan setianya mendekap sang batu.
Bagi dirinya mencinta adalah sebentuk pelayanan,
Mencinta adalah sebuah kebutuhan,
Mencinta berarti menghidupkan cita dan harapan.
Demi orang yang dicintainya, ia rela terterpa panas dan hujan.
ia menyakini bahwa suatu waktu, sebongkah batu yang keras sekalipun- akan menjadi lunak karena sihir cinta.
Apapun yang kau dengar tentang Cinta ,
apaun yang ingin kau katakan tentang wujudnya,
ketahuilah bahwa inti Cinta itu sendiri adalah sebuah rahasia yang tak pernah terungkapkan.
———————————————————————
Hikmah yang bisa dipetik dari syair ini :
Manusiawi sekali kalau kamu ingin dicintai.
Cinta memang indah, menggairahkan dan mempesona.
Namun kamu tidak bisa meminta atau memaksa orang lain mencintaimu.
Satu-satunya cara yang bijak untuk dicintai adalah dengan melupakan keinginan dicintai dan mulailah mencintai
Hartono Benny Hidayat
www.duniasastra.com
Diposting oleh Ben di 23.44 Tidak ada komentar:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *