Kuawali syair ini dengan menyebut nama Allah swt, Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Kasihnya menerangi dan mencukupi segala sesuatu bagi makhluk-makhluknya, mulai dari yang melata hingga berdiri tegap, yang hidup dalam lubang pekat hingga naungan benderang cahaya……

Duhai cinta !, masihkah kau ingat syair kasih dariku yang berbunyi:
“Dalam penziarahan cinta, ombak lautan yang membawanya pergi pada sang kekasih adalah deburan sejati yang mengalir dari samudera ketulusan hati.

Langkah kaki yang diayunkannya, bagai degup jantung yang menghidupi dan memelihara kekasihnya dari nestapa dunia.
Sedang semerbak untaian kata yang ditebarkan keudara bagai senandung abadi, yang dinyanyikan bidadari surga”.

“Dapatkah kemurnian cinta menahan hasrat untuk membahagiakan kekasihnya?, mungkinkah bulan akan membiarkan matahari untuk bersinar selamanya tanpa saling melengkapi dan mengisi kekosongan hari?! “.

Tahukah kau wahai belahan jiwa?…. Tanpamu disisi- membuat jiwaku laksana sebuah kapas yang diterbangkan keudara, terhempas dalam kehampaan…..dan terjatuh ketanah saat airmata kepedihan membasahinya”.

Tahukah kau kekasih, dari kebun bunga-bunga jiwamu aku mengenal ketulusan, darinya aku mengenal kasih sayang; dan juga cinta. Maka injaklah tanah jiwaku dengan tapak kakimu, maka kelak darinya kan tumbuh bunga-bunga kehidupan.

Bakar dan cabutlah bunga kehidupanku dari akar jiwamu, maka sebagian jiwamupun akan ikut mati bersamanya. Marahlah padaku jika kau mau, lalu padamkanlah dengan percikan airmataku, bila kegilaanku ini kau anggap sebagai aib atau kesalahan; karena aku tak sanggup menanggung kemarahan darimu, sebab kau begitu indah.

Dalam ketersendirianku ini kemana lagi aku akan mengeluh dan mengaduh?….sedang engkau yang menjadi nafas penopang hidup dan matahariku, kini kepada siapakah kau arahkan cahyamu?!.

Engkau bagaikan matahari yang berkuasa menyinari hatiku dan membawa obor kedamaian dalam hangatnya api cintaku, namun mengapa kau menahannya dariku?. Pernahkan kau menyadari bahwasanya satu hari berpisah dalam Cinta sama dengan seribu tahun lamanya, dan seribu tahun bersama Kekasih terasa hanya dalam sehari.

Takkala jiwaku haus akan kelembutan sentuh kasihmu, kemanakah genggaman jarimu kini kau eratkan?!. Engkau bagaikan mahkota raja-raja yang tercipta untukku,. Namun kepada siapakah kini ia menghias?!.

Mungkin saat ini engkau sedang tertawan dalam kasih sayang keluargamu, tapi mengapa bukan kegilaanku saja yang dibelenggu?!. Sebab aku kini telah sebatang kara, tak lagi memiliki keluarga serta sahabat yang dapat kucintai selain dirimu.

Kini aku telah tenggelam dalam samudera ketersendirianku, mungkinkah kau datang mengangkat dan meraih tanganku dalam badai keterpurukanku ini?!.

Berilah aku setetes embun harapan dan secercah isyarat kasihmu agar pohon jiwaku kembali hidup !.

Dalam kehampaanku ini, ketahuilah bahwasanya tak ada yang dapat menghapuskan rasa cintaku darimu, sebab nyala api cintamu akan selamanya berpijar dalam hatiku !.
www.duniasastra.com
Hartono Benny Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *