Jiwa seorang anak tak henti dilanda derita adalah seumpama teratai putih yang sedang terapung . Menggigil diterpa semilir angin dan membuka hatinya untuk sang fajar . Lalu melipat daunnya kembali takkala bayang-bayang malam telah datang.

Manakala anak tersebut tidak punya hiburan atau kawan dalam permainan , hidupnya akan menjadi penjara yang sempit , dimana ia tidak mampu melihat apapun kecuali jaring laba-laba ,tidak mendengar sesuatupun kecuali suara serangga

Penderitaan yang menghantui selama masa mudaku bukanlah disebabkan oleh kurangnya hiburan dan permainan karena pada kenyataannya aku punya itu semua ….bukan pula teman yang tiada terbilang ,kedukaan itu lebih dikarenakan oleh penyakit bathin yang membuatku mencintai kesederhanaan . Ia juga mematikan kecendrunganku pada permainan dan hiburan.

Ia pulalah yang mematahkan “kemudaan” dari bahuku dan membuatku seperti “kanvas” yang memantulkan lukisan “kegelapan dan warna pelangi”.

Konon kebersahajaan membuat seseorang berada dalam kekosongan . Dan kekosongan membuatnya riang tiada berpikir sedikitpun .

Yang demikian barangkali benar bagi mereka yang terlahir sebagai mayat dan hidup bagai seonggok jasad kaku diatas permukaan tanah . Tapi bagi seorang anak yang peka serta tahu sedikit saja tentang “sesuatu’ , dialah makhluk paling sial dibawah matahari ini, sebab dia tercabik oleh dua kekuatan, yang pertama mengangkatnya dan mempertontonkan indahnya semesta dari balik kabut mimpi-mimpi.

Yang kedua memaksanya turun kebumi dan memenuhi pengelihatannya dengan debu dan menyekapnya dengan segala kekhawatiran dan lamunan….

Setiap kali aku pergi keperladangan pengetahuan , aku kembali dengan kekecewaan tanpa sedikitpun memahami penyebab kekecewaan itu . Aku laksana seekor elang menderita sendirian dalam sangkarnya takkala melihat sekawanan burung terbang bebas dilangit yang luas.

Namun kesunyian dan kepedihan itulah yang menuntunku melangkah menuju lorong penderitaan sekaligus teman keagungan spiritual…..

Aku adalah pemburu yang juga diburu , anak panah yang kulepaskan telah berbalik kembali , dan bersarang tepat dijantungku sendiri ,Akulah yang “terbang” sekaligus yang “merayap” . Ketika sayapku melayang bagai burung yang mengangkasa , bayanganku diatas tanah merangkak seperti kura-kura. Aku pergi bersama angin, tetapi bukan berarti kepergianku tanpa tujuan.

Janganlah kalian khawatir terhadap aku , karena aku datang dari sumber kesepian yang agung, disaat kabut hitam yang mengambang telah hilang , aku akan meninggalkan bekas dalam tetesan embun , lalu bangkit menyatukan diri diawan dan jatuh kebumi menjadi hujan…………….

www.duniasastra.com
HArtono Benny H kolaborasi degan KG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *