Cinta yang terlahir bersama rahasia malam, menghadirkan ketulusan dan keabadian cinta yang terdalam laksana dalamnya samudera, setinggi bintang dan seluas angkasa.

Namun aku mendapati manusia jaman sekarang cendrung untuk memandang “wujud” yang tampak, atau hanya pada kasat mata . Dan tidak pernah mau mendengar simpony kedalaman jiwa dari “wujud” itu sendiri. Senantiasa mereka mangarahkan mata hatinya pada “harga diri” yang dapat membutakan mata , didalam memandang rahasia-rahasia kehidupan.

Betapa menderitanya seorang lelaki yang mencintai seseorang gadis dan mejadikan seorang istri, serta menaburkan kebawah kakinya sutra, emas dan perhiasan, serta menaruh ditelapak tangannya buah cinta dan ketulusan kasih, tetapi setelah tersadar, ia menemukan bahwa hati itu- yang berusaha ia beli, telah diberikan secara cuma-cuma kepada lelaki lain segala cintanya yang tersembunyi, dengan jari-jarinya yang kasar si gadis merusak mahkota suci lalu ia menggantinya dengan sebuah mahkota kusam yang direnda dengan jeruji-jeruji neraka.

Ia melemparkan pakaian-pakaian kehormatan dari badannya, lalu menggantinya dengan pakaian yang berlabel aib dan dosa.
Betapa menderitanya seorang perempuan yang terbangkit dari obor cinta,

menemukan dirinya berada dirumah laki-laki yang telah membeli tubuhnya dan membanjiri tubuhnya dengan kemilau emas serta harta benda yang tak mampu memuaskan jiwanya dengan anggur surgawi, sebagaimana telah dicurahkan oleh Tuhan kedalam hati sebagai anugrah cinta. Betapa malangnya seekor burung merak yang terkurung didalam sangkar lalu mendapati sayap-sayapnya telah patah dan ter-renggut dalam kepalsuan cinta.

Sanggupkah kau para penyair,para pecinta keindahan -melihat dua jasad saling berdampingan namun jiwanya terbang berhamburan ?!…….

Bumi dan langit yang terhampar -ingin seperti Adam dan Hawa, meraih keagungan cinta dalam tali kasih semesta.

Namun aku senantiasa bertanya-tanya, mampukah cinta sejati bertahan didalam derasnya nilai-nilai materialisme dan sistem religi ?….

Takdir Ilahi tetap bertahan pada prinsip, bahwa cinta sejati itu tetap ada, walau tangan-tangan kotor manusia berusaha membelokkannya; senantiasa dia hadir bersama ketulusan hati, berlari-lari ia tanpa mengenal lelah, mendekati obor pengetahuan, sebuah sensasi-dimana kita dapat merasakan sentuhan lembut “jemari cinta” nan berapi , yang mambuat jiwa-jiwa terpilih selalu tersenyum dan gembira sekiranya harus tertatih , ataupun harus menunggu hingga seribu tahun lamanya.

Dari perenungan-perenunganku akan cinta, lalu kudapati Engkaulah Ya Allah Cinta abadi itu…..
www.duniasastra.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *