Kubawa serta gitar ini , lalu kunyanyikan lagu untuk telaga sunyiku, kumelangkah menjemput pelangi dibalik kabut hitam, yang kugenggam erat adalah segumpal daging yang bernama harapan…

Nafasku berhembus laksana kuda perang. Telah menetes air kehidupan ditubuh, dengan berbedak asap dan debu jalanan-kuterus berlari dan berlari, aku terbang bersama angin namun bukan berarti arahku tanpa tujuan .

Apa yang sedang kucari akupun tak tahu sepenuhnya ! Namun aku sedang mencoba mengisi ruang kosong dari jiwaku….

Aku menunggu penuhnya mangkuk ini, yang kelak akan terisi penuh olek kerak nasi serta sup yang berkuahkan airmata….

Namun ku tidak sendiri…disana kulihat “Peri kecil” yang lusuh dan berkoreng sedang mengais-ais sampah untuk sekedar makan !…yang menurutku lebih buruk nasibnya dari anjing piaraannya orang-orang kaya !

Hati ini bergetar Tuhanku, menggigil tulang sendiku menyaksikan itu semua…..dirahim kesedihan mana kau titipkan bocah-bocah ini…sehingga mereka harus menjalani hidup seperti itu….Tapi ku tersadar, Engkau tak pernah salah Tuhanku, itu karena keserakahan kami, kami memang “buta dan tuli” yang membiarkan semua itu bisa terjadi..dan kusadari bahwa Kehidupan yang dijalani orang kaya untuk menumpuk emas sesungguhnya adalah seperti kehidupan ulat didalam makam. Itulah tanda-tanda ketakutan.

Akupun terjaga dari rasa tertegunku , lalu kusadari bahwa Lewat “mereka” inilah Tuhan berbicara , dan dari sinar lembut mata mereka , Dia tersenyum kepada dunia.

Betapa ingin hatiku agar kalian dapat hidup dari sari wangi bumi , seperti bunga yang cukup hidup dari terang cahaya dan air.

Wahai “peri kecilku ” disaat kalian mengunyah buah dengan gigi kalian , Ucapkanlah dalam hati : “Benihmu akan hidup terus dalam tubuhku dan kuncup hari esokmu tetap mekar dihatiku. Keharumanmu selalu terhembus dalam nafasku , dan bersama kita akan menari bersuka ria menyambut setiap musim yang akan tiba .”

Malampun berlalu, keremangan menyelimuti kotaku yang tak pernah mati….

Aku menyusuri lorong gelap kota yang penuh sesak oleh “sampah cantik” laksana jasad busuk yang belum terkubur…

Malam telah temaram “Peri keciku” telah tertidur pulas beralaskan tanah , beratap langit dan berselimutkan debu jalanan. Jiwaku tercabik-cabik mengerang kesakitan !…….Merintih dan tersayat….aku berteriak kepada setiap jiwa yang melintas…..tetapi kuda-kuda besi mereka terlalu cepat berlalu….aku menitikkan airmata darah dan dari balik airmataku aku melihatmu dirangkul Keadilan, tersenyum dan mengampuni para penganiayamu.Engkaulah saudaraku dan aku mengasihimu….

Takkala jiwaku hendak berontak melawan ketidakadilan manusia terhadap sesamanya , dan aku melihat wajahnya berada diantara wajah-wajah yang ingin kuhindari !

Takkala kulihat wajahnya yang jujur dan polos- badai yang berkecamuk dalam jiwaku seketika tergantikan oleh alunan lagu-lagu merdu dan cahaya bintang…

Peri kecilku kelak engkau akan tahu bahwa bahwa kemalangan yang menimpamu dalam kehidupan adalah kekuatan yang menerangi hati dan mengangkat jiwa dari lubang kehinaan menuju singgasana kehormatan , dan aku yakin engkau takkan pernah kecewa dengan sepetak bumi yang telah kau miliki, ketahuilah bahwa kesedihan adalah sebuah rantai emas diantara kepasrahan masa kini dan harapan masa depan dan yakinlah masih ada hari esok yang penuh dengan harapan dan cita!.

Hartono Benny Hidayat elaborasi dengan Kahlil Gibran

2001

www.duniasastra.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *